News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

SUBSCRIBE INMAGELANG

Wanita Asal Semarang Buka Warkop Di Swiss, Para Pelanggan Dianjurkan Belajar Bahasa Indonesia

Wanita Asal Semarang Buka Warkop Di Swiss, Para Pelanggan Dianjurkan Belajar Bahasa Indonesia

👍 Biasakan membaca artikel sampai selesai yappp man teman 😍 🙈, dan biasakan membaca dulu baru berkomentar 😅. supaya tidak ada dusta di antara kita, xixixi 🙏 😜


inmaWOW
, inMagelang.com - Di mana kopi diseduh, di sana ada persahabatan. ucapan Abdul Kadir Ansari, Syekh Arab Saudi di abad 16 ini, sepertinya tepat sekali dialamatkan ke Omnia Coffe, Kedai kopi di Stauffacherstrasse 105, Zurich, Swiss.

Setidaknya kala media masuk kedai kopi yang ada di Kawasan Helvetiaplatz itu, tidak hanya secangkir kopi yang diterima konsumen, akan tetapi juga kehangatan antara barista dan pelanggannya.

Pelanggan Omnia, usai membayar cappuccino-nya, mereka tidak segera bergegas meninggalkan kedai itu. Akan tetapi mulai percakapan ringan, mengenai cuaca, mengenai kopi dan mengenai Indonesia.

"Yang datang kesini, tidak hanya sekedar ingin ngopi. Akan tetapi juga ingin tahu, seperti apa kopi hangat itu sampai ditangan mereka," tutur Alista Oksanti kala ditemui oleh media.

Kopi yang diseduh Alista, bukanlah kopi biasa. Memang jenis robusta atau arabika. "Akan tetapi semua itu dari Indonesia, di-roasted-nya juga di Indonesia," imbuh wanita asal Semarang itu.

Alista kemudian memperlihatkan beberapa bungkus kopi dari Bali, Toraja, Sumatera sampai dengan Flores. "Konsumen bisa memilih cappucino atau cafe latte, akan tetapi berbahan dasar kopinya tetap kopi Nusantara," terang Alista

Dari asal muasal kopi ini, imbuh Alisa, percakapan barista dengan konsumen akan mengalir dengan begitu saja. "Saya hingga terharu, jika ada orang Swiss yang bersusah payah untuk bisa berbicara dengan bahasa Indonesia," tutur Alista. Tidak jarang, ada pelanggan yang kemudian lancar berbahasa Indonesia.

Omnia Coffe memang didesain untuk hal itu. Dari kopi, percakapan pun dimulai. Jika akhirnya mulai merambah jauh diluar perkopian, akan tetapi tujuan bahasan tetap saja mengarah ke Indonesia.

"Barista tidak hanya dituntut memberikan sajian kopi terbaik, akan tetapi juga menceritakan asal muasal secangkir kopi hangat itu sampai pada tangan pelanggan," ucap Alista.

Omnia Coffee memenuhi syarat untuk menjadi sebuah kedai kopi. Martin Ponti, pria Swiss yang menggagas kedai itu, sudah 20 tahun bergulat pada bidang perkopian di Indonesia.


Tak hanya bahasa Indonesianya saja yang lancar, akan tetapi ia juga sangat paham dengan seluk beluk perkopian di Indonesia, Suami Alista itu sudah hafal luar dan dalam.

"Saya pernah bekerja di perusahaan kopi di Indonesia, pada bagian quality control," ucapnya. Martin menyandang gelar ahli kopi dengan sertifikat Q Grade Expert, ahli kopi paling tinggi kastanya.

"Swiss bisa menciptakan mesin kopi kelas dunia, akan tetapi umumnya mereka meminum kopi dari mesin full otomatis," ucap Martin.

Tinggal menekan tombol, tidak sampai 1 menit, sudah ada 1 cangkur cappucino atau espresso.

"Jika di Indonesia setiap rumah memiliki rice cooker, di Swiss setiap rumah memiliki mesin kopi," ucap Martin

Jika ada konsumen yang ingin tau lebih lagi mengenai kopi dan peracikan kopi, maka Martin akan menawarkan ilmunya. "Saya akan memberikan kursus kepada para penikmat kopi amatiran, sampai bisa menjadi barista profesional," ucapnya


Produk kuliner Indonesia di Swiss, khususnya pada bidang gastronomi, sepanjang catatan media, kurang cukup baik. Beberapa resto yang sudah berdiri akhirnya bangkrut.

Jika pun ada yang bertahan jumlahnya bisa dihitung jari. "Bisnis restoran dan sejenisnya bukan sebuah hal yang mudah di Swiss. Terlebih lagi saat ini ada lockdown," ucap Alista

Akan tetapi jika menyaksikan perkembangan Omnia Coffe usai dibuka tiga mingguan ini, masih kata Alista, dirinya mengaku tak begitu khawatir.

Latar belakang dan pengalaman dirinya kerja di bermacam-macam hotel bintang lima di Jakarta membuat dirinya optimis bahwa Omnia Coffee bakal berjalan sesuai yang diharapkannya.

Tags