News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Ini Dia Si Jenius Penemu Sistem Sirkulasi Darah

Ini Dia Si Jenius Penemu Sistem Sirkulasi Darah

👍 Biasakan membaca artikel sampai selesai yappp man teman 😍 🙈, dan biasakan membaca dulu baru berkomentar 😅. supaya tidak ada dusta di antara kita, xixixi 🙏 😜
Ibnu Nafis Penemu Sistem Sirkulasi Darah
InMagelang.com, Sosok - Peradaban di masa lampu pernah melahirkan tokoh yang mmberikan sumbangsih yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, mencakup hanpir semua bidang. Di bidang kedokteran , misalnya, terdapat nama Ibnu Nafis yang telah berjasa menemukan sistem sirkulasi darah. Restasi Ibnu Nafis ini ditorehkan jauh sebelum ilmuwan Barat menemukan atau mengembangkan jenis pengetahuan yang sana. Ibnu Nafis berhasil menemukan sistem sirkulaasi darah pada bad ke-3 Masehi, bandingkan dengan ilmuwan kodokteran asal Inggris pencetus teori peredaran darah, William Harwey, yang hidup sekurun tahun 1578 hingga 1657.

Ibnu Nafis adalah seorang ahli agama sekaligus eorang dokter yang menjadi samng pemula tercetusnya teori tentang sisten sirkulasi darah. Cendekiawan muslim jenius ini dilahirkan pada 1210 M di Damaskus, Syiria, dengan nama lengkap Abu ‘Ala’i ‘Alauddin ‘Ali bin abi Hazam bin Nafis Qurasyi. Sejak usia belia, Ibnu Nafis sudah tertarik dan menyimpan bakat terpendam di bidang sains dan limi ilmu pengetahuan lainnya. Potensi Ibnu Nafis semakin kuat terlihat berkat didikan beberapa gurunya yang mnerupakan para tokoh terkenal seperti Syeikh Al-Dawar, Radhiuddin Rahabi, dan Umran Isra’ili.

Setelah memeperdalam ilmu pengetahuan secara intensif di Damaskus, Ibnu Nafis bertetapan untuk hijarah ke Mesir demi mengembangkan sekaligus menerapkan ilmu yang sudah diperolehnya selama ini. Di negeri kebudayaan maju inilah Ibu Nafis dapat menggapi puncak-uncak keemasannya sebagai seprang ilmuwan, dokter, filsuf, budayawan, ahli bahasa, cendekiawan, sekaliguas seorang ulama. Selain dikenal sebagai penemu sistem sirkulasi darah, nama Ibnu Nafis juga kondang sebagai pakar ilmu fikih, filasafat, ilmi bahasa, dan gramatika. Ia juga hafal Alquran dan menguasai banyak hadist Nabi Muhammad Saw.

Hasil penelitian dan penemuan Ibnu Nafis diabadikan lewat sejumlah karya yang turut mnemberikan lewat sejumlah karya yangturut memberikan andil bagi perkembangan sejarah ilmu pengetahuan. Prestasi Ibnu Nafis yang paling mentereng adalah penemuannya tentang sirkluasi darah yang termaktub dalam kitab Syarah Tasyif Qanuun. Karya Ibnu Nafis ini merupakan penjelasan lebih lanjut dari uraian anatomi Ibnu Sina (980-1037 M) dalam bukunya yang terkenal, Al-Qaanun fi al-Thibb.

Ibnu Nafis memlalui Syarah Tasyrif Qanuun menjelaskan bahwa paru-paru, jika dicermati dengan lebih   terperinci, terdiri tiga unsur utama, yaitu cabang-cabang trachea (buluh pernapasan), xabang cabang arteria venosa, dan cabang vena arteriosa. Ketiga unsur dalam paru-paru itu dirangkaikan oleh jaringan lunak berpori.

Lebih lanjut Ibnu Nafis menerangkan, vena ateriosa sangat penting bagi paru-paru karena ini yang telah dimurnikan dan dihangatkan oleh jantung bagian kanan. Darah tersebut kemudian mengalir dalam cabangcabang terhalus bena arteriosa menuju kantong-kantong  udara (alveolus MS) sehingga bercampur dengan udara serta bergabung dengannya. Sedangkan arteri venosa ber[eran sebagai pembawa udara yang telah bergabung dengan darah dari paru-paru ke bilik kiri jantung. Disinilah dihasilkan substansi vital dari percampuran dan gabungan tersebut.

Sumbangan lain Ibnu Nafis dalam dunia kedokteran adalah melaluibukunya Asy-Syamil fi al-Thibb yang hingga awal abad kedupuluh masih dianggap sebagai sebuah ensiklopedi kedokteran. Buku tersebut menurut rencananya akan mencapai tiga ratus jilid. Sayang, Ibnu Nafis hanya dapat menyelesaikan delapan puluh jilid.

Selain kitab Syarah Tasyrif  Qanuun, Ibnu Nafis juga menulis buku yang mencakup hampir seluruh cabang ilmu kedokteran pada waktu itu, yaitu kitab referensi yang diberi judul  Al-Muhadzdzab fi Al-Kuhl. Buku  ini merupakan sumbangsih yang sangat besar bagi perkembangan ilmukedokteran di masa-masa berikutnya. Pada 1288, Ibnu Nafis wafat di Kairo, Mesir, dengan mewariskan seabrek karya dan pemikiran yang menakjubkan dan menjadi pondasi bagi ilmu kedokteran di era modern.

Tags