News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Hugo Grotius, Bapak Ilmu Hukum Internasional

Hugo Grotius, Bapak Ilmu Hukum Internasional

👍 Biasakan membaca artikel sampai selesai yappp man teman 😍 🙈, dan biasakan membaca dulu baru berkomentar 😅. supaya tidak ada dusta di antara kita, xixixi 🙏 😜
Hugo Grotius, Bapak Ilmu Hukum Internasional
InMagelang.com, Sosok - Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial sekaligus yan senantiasa berada di dalam situasi persaingan. Kendati demikian, manusia berpotensi dapat menjalani hidup dengan dama meskipun dirinya sarat dengan ambisi berkompetensi dan potensi konflik dalam kehidupannya. Keadaan yang damai dalam kehidupan manusia itu dapat terwujud apabila manusia menghormati-hak-hak setiap orang.

Itulah salah satu teori yang dicetuskan Hugo Grotius dalam salah satu keryanya yang paling terkenal berjudul The Law of War and Peace atau “ Perihal Hukum Perang dan Perdamaian” yang diterbitkan pada 1625.

Hugo Grotius, yang mempunyai nama asli Hugeianus de Groot, adalah seorang pemikir dari Belanda yang menjadi pelopor pandangan-pandangan modern terhadap hukum internasional. Grotius juga tercatat sebagai salah seorang filsuf kenamaan yang merumuskan tentang hukum alam. Di liar popularitasnya sebagai seorang pemikir, Grotius juga dikenal sebagai pengacara, penyair, sekaligus seorang teolog, kendati kepiawaiannya terlanjur lekat dalam bidang hukum.

Grotius berperan sebgai peranta antara teoru politik dan hukum pada era Abad Pertengahan dengan masa Abad Pertengahan yang pernah terjadi di Eropa. Grotius juga tampil sebagai pencetus pandangan baru tentang hukum alam untuk menghadapi teori dari aliran-aliran skeptisisme. Ia memperlihatkan bahwa terdapat penjelasan yang masuk akal tentang moral selain jawaban dari agama. Denga segenap peran, sumbangsih, dan pengaruhnya di bidang hukum internasional itu, maka bukan hal yang berlebihan jika HUGO Grotius dinobatkan sebagai Bapak Ilmu Hukum Internasional.

Hugo Grotius lahir di Delft, Belanda, pada 10 April 1583, anak sulung dari Jan de Groot dan Alida van Overschie. Ayah Grotius adalah seorang ahli ilmu politik yang terinspirasi oleh pemikiran Aristoteles. Maka dari itu, ayahnya mempersiapkan Grotius sejak dini agar kelak bisa menjadi orang yang berguna. Usaha sang ayah terbukti sukses pada usia 11 tahun. Grotius sudah diterima di Universitas Leiden, ini jelas sebuah prastasi yang luar biasa.

Di dalah satu perguruan tinggi paling ternama di Beland itu, Grotius belajar bersama para intelektual paling terkemuka di kawasan Eropa bagian utara pada waktu itu, seperti Franciscus Junius, Joseph Justus Scaliger, Rudolph Snellius, dan nama-nama lain.

Setelah lulus dari Leiden, Grotius melanjutkan studinya ke Prancis dan meriah gelar doktor dalam bidang hukum dari Universitas Orleans pada 1599, usia ke-16 yahun itu, Grotius pulang ke Belanda dan bekerja untuk sebuah lembaga hukum di Den Haag. Pengetahuan hukum Grotius merupakan bentuk perpaduan hukum alam yang bernuansa telogis tradisional dengan konsep sekuler dan rasional modern yang diramu menjadi hukum antara bangsa-bangsa.

Pada 1605, ia dipercaya sebagai penasihat politik dan hukum Jaksa Agung Johan van Oldenbarnevelt. Dua tahun berselang, Grotius diangkat seagabagi advokat umum untuk Belanda, Zeeland, dan Friesland, hingg pensiun dari penasihat hukum Wli Kota Rotterdam pada 1613.

Grotius adalah manusia multilante. Ia punya banyak sekali keahlian selain drana hukum secara khusu. Karya-karya Grotuius meyisipakn perinsip-prinsip hukumnya dalam penulisan karya-karya tentan teologi, sejarahm bahkan sastra. Mulanya, ia menjadikan sejarah dan hukum di Belanda sebagai pijakan dalam setiap karya tulisannya, Grotius, misalnya, pernah menulis bahwa Belanda memiliki bentuk pemerintahan yang paling idela.

Groyius sangat memukai karena mampu merumuskan pandangan baru mengenai keteraturan dan struktur dari ilme pengetahuan sebagaimana dapat ditemukan dalam karya-karya penulis klasik terdahulu.

Kisah paling terkenal dalam kehidupan Grotius adalah peristiwa pelariannya dari Kastil Leovestein. Sejak tahun 1619, ia ditahan seumur hidup di kastil itu dengan dakwaan makar. Ini terkait dengan keterlibatannya dalam misi diplomatik yang dipimpin Jaksa Agung Oldenbarnevelt yang kemudian dihukum mati.

Pada 22 Maret 1621, Grotius berhasul melarikan diri dari kastil dengan bersembunyi di dalam peti buku. Ia kemudian melarikan diri dari Belanda dan mencari perlingdungan hingga ke Rostock, Jerman. Hugo Grotius mengabiskan sisa hidupnya di tanah pelariannya itu hingga wafat pada 1645.

Tags