News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Orang Indonesia Penemu Crack Progession Untuk Pesawat, BJ Habibie

Orang Indonesia Penemu Crack Progession Untuk Pesawat, BJ Habibie

Sosok, InMagelang.com - Sebelum era 1970-an, kecelakaan pesawat terbang karena kerusakan konstruksi masih sering terjadi. Badan pesawat yang mulus tanpa cela tidak menjamin kekuatan komponen di dalammya. Pesawat sering kali karan karena adanya kekeroposan mesin setelah terbang berkali-kali, belum lagi kelelahan pada bodi luar pesawat yang masih sulit dideteksi karena keterbatasan teknologi. Sambungan antara sayap dan badan pesawat menjadi titik lemahnya. Saat pesawat lepas landas maupun mendarat, bagian itu pasti terguncang keras. Kondisi arus pada logam sebagai bahan utama pesawat pun menjadi perhatian serius karena itulah penyebab terjadinya crack (keretakan) pada tubuh pesawat.

Ketika dunia industri pesawat kebingungan karena crack ini, mucullah anak muda jenius yang mencoba menawarkan jalan keluar. Ia adalah Bacharuddin Jusuf Habibie, putra Indonesia kelahiran Pare-pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936.  Selepas SMA, habibie melanjutkan kuliah tehnik mesin di Institut Teknologi Bandung sejak 1954. Tak sampai setahun, Habibie berkesempatan meperdalam studi teknik penerbangan dengan spesialis konstruksi pesawat di Aachen, Jerman Barat. Gelar Diplom Igineur diraihnya pada 1969 dan pada 1965 ia lulus sebagai Doktor Ingineur dan memperoleh predikat summa cum laude.

Kecermerlangan Habibie, yang memperoleh nilai 10 di hampir semua mata kuliah, menarik Hamburger Flugzeubau (HFB) untuk merekrutnya sebagai Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Analisis Struktur. Tugas utama Habibie adalah memecahkan misteri crack yang kerap menghantui pesawat. Kinerja Habibie memang menakjubkan, ia mampu menyelesaikan misinya hanya dalam waktu 6 bulan! Habibie berhasil mendeteksi bagaimana rambatan titik crack itu bisa terjadi. Perhitungan si jenius ini sangat detail, bahkan hingga pada perhitungan atomnya sebagai satuan ukur paling kecil.

Dunia penerbangan sontak bergembira. Crack progression, begitu mereka menyebut hasil temuan Habibie itu, dan kondanglah Habibie dengan julukan Mr.Crack. berkat Habibie pesawat menjadi lebih aman karena bisa menekan risiko jatuhnya pesawat.

Selain itu, perawatan pesawat juga lebih mudah dan lebih murah. Prestasi yang diukir Habibie membuatnya dipercaya untuk mendesain utuh sebuah pesawat baru. Salah satu pesawat hasil karyanya adalah prototipe DO-31,pesawat baling-baling tetap pertama yang mampu tinggal landas dan mendarat secara vertikal. Rancangan pesawat ala Habibie ini kemudian dibeli NASA, Badan Penerbangan dan Luar Angkasa Amerika Serikat.

Pada 1969,  Habibie pindah ke Messerchmitt Boelkow Blohm Gmbh (MBB), industri pesawat terbesar di Jerman. Karier Habibie melesat cepat bak pesawat jet, ia berhasil menduduki jabatan sebagai Vice President Teknologi MBB pada 1974. Patut dicatat, Habibie adalah orang non-Jerman pertama yang mampu menduduki posisi tertinggi kedua di perusahaan ternama itu. Semasa di MBB, Habibie berhasil meneruskan teori termodinamika, konstruksi ringan, aerodinamika, dan penyempurnaan crackprogression. Nama habibie pun diabadikan sebagi label temuan-temuannya, seperti Teori Habibie, Faktor Habibie, dan Metode Habibie. Semuanya itu telah dipatenkan secara resmi dan diakui serta digunakan di dunia penerbangan internasional

Ketenaran Habibie di luar negeri membuat Soekarno, Presiden Republik Indonesia saat itu, berkehendak untuk memanggilnya pulang pada 1973. Habibie bersedia dans ejak itulah teknologi kedirgantaraan nasional mengalami perkembangan pesat. Pesawat pertama buatan Indonesia, yakni CN-235 dan N-250, adalah sedikit dari sekian banyak hasilnya.

Prestasi yang melangit yaitu membuat Presiden Soeharto tidak ragu lagi memilihnya menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi RI sejak tahun 1978. Jabatan prestisius ini diemban Habibie hingga maret 1998. Pada masa jabatannya itu, Habibie juga dipercaya mengemban mandat untuk memimpin Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sejak 14 Maret 1998, Habibie sempat menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Soeharto. Namun, 2 bulan kemudian, Soeharto lengser karena desakan rakyat, dan secara otomatis, Habibie naik pangkat untuk meneruskan peran Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung tangga 21 Mei 1998.

Agaknya Habibie memang lebih pantas menjadi seorang ahli teknologi ketimbang berkecimpung di ranah politik. Pemerintahannya hanya bertahan sampai 20 Oktober 1999 dan kemudian digantikan oleh presiden selanjutnya yang terpilih melalui proses dinamika politk yang rumit, yakni Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Pasca lengser, Habibie kembali ke Jerman untuk menenangkan diri dari keruwetan politik yang masih melanda Indonesia.

Namun, ketika masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, Habibie terpanggil untuk pulang dan dipercaya sebagai penasihat presiden. Bersama lembaga yang dibentuknya, Habibie Center, ia bertekad untuk mengawal proses demokratisasi di Indonesia.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.