Gusdurian : Dunia Memandang Wajah Islam Yang Ramah Di Indonesia

shares |

Gusdurian adalah sebutan untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur.

Alissa Q Wahid ( Sumber @MediaIndonesia.com )

InMagelang, Nasional - Alissa Q Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian menyatakan, masyarakat dunia saat ini masih melihat Islam yang ada di Indonesia sebagai wajah Islam yang ramah. "Karena di Indonesia inilah orang yang beragama Islam bisa hidup nyaman dalam ber Islam tidak seperti yang ada di belahan dunia lain," ucap Alissa Q Wahid di Pontianak, Kalbar, sabtu 9/9/2017.

Mbak Alissa memberikan penjelasan, ada dua hal yang harus di pilih untuk penguatan hal itu. Yang kesatu yaitu kelompok muslimnya itu ada penguatan Islam Indonesia, Otomatis umat Islam di Indonesia menjadi model muslim secara global.

Kemudian untuk jalur kedua yaitu Narasi kebangsaan, di mana kalaui narasi keislaman untuk muslim dan narasi kebangsaan untuk seluruh elemen bangsa Indonesia. Mbak Alissa mengucapkan, hal itu sangatlah diperlukan untuk pertahanan dan tetap memelihara perdamaian, keamanan dan tetap bersatu dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tetap hidup saling berdampingan, menghormati, karena jika tidak seperti itu maka NKRI dalam bahaya kehancuran.

Hal iu, menurut Alissa bukan tanpa alasan. Dari potret yang didapat dari hasil survei yang telah dilakukan Gusdurian bersama Infid di beberapa daerah termasuk di Pontianak ditemukan, bahwa rasa intoleran terhadap pihak lain yang tidak sama dengan agama yang mereka peluk intensitasnya terlihat lebih emosional.

"Untuk di sini sebenarnya Gusdurian ingin memotret sebenarnya situasi Pontianak itu bagaimana, hal ini kami maksudkan agar nantinya apa yang paling tepat untuk kami respon. Dan kami juga kaget ternyata di Pontianak banyak sentimen-sentimen yang intensitasnya sudah lebih emosional dan lebih mengedepankan sentimen premodial dari pada sentimen kebangsaan," katanya.

Berdasarkan temuan itu, Alissa Q Wahid meminta media di Kalbar dapat mengambil berperan penting untuk meredam situasi itu agar nilai-nilai persatuan tidak menjadi hilang dalam kehidupan masyarakat. "Kami sangat berharap teman-teman media mau membantu dalam hal meredam hal ini. Media juga kami harapkan dapat berperan sesuai fungsinya sebagai pembentuk wacana publik dalam merubah arus sentimen tersebut tidak semakin kencang tapi diharapkan bisa berkurang," katanya.

Ia menambahkan, dalam survei itu ditemukan, bahwa di Pontianak dilihat dari pilihan umur, yakni semakin muda semakin tidak toleran. "Gambarannya yakni untuk kelompok umur 25-30 tahun itu terdapat 20 persen, 20-25 tahun naik menjadi 30 persen, dan 16-20 tahun semakin naik menjadi 40 persen sikap menolak kelompok lain. Ini yang harus kita perhatikan melalui pemberitaannya bagaimana caranya menyisir atau menyemai ide-ide kebangsaan guna memperkokoh kesatuan dan persatuan di kalangan anak muda," katanya.

Sumber : Antara